Berhenti pada lamunan diatas kasur, tiga puluh menit lebih dua puluh satu detik berlalu begitu saja.
membiarkan hati mati diantara ribuan tanda tanya dan ke-mengapa-an yang hingga kini takku temukan jawabannya. 
Lalu sakit yang begitu sangat menghampiri begitu saja. 
Genangan air tumpah tanpa aba-aba. 
Hidup memang dinamis, begitupun hati. 
Namun, kala aku tidak lagi melihat pupil mata yang membesar ataupun senyum hangatmu ketika kita bersama, aku tau, kenyamanan bersamaku sudah tidak lagi seperti dulu. 
Aku tau begitu banyak rasa yang sudah terkikis waktu dan sikapku. 
Apa yang belum aku tau ? aku berusaha meyakinkan aku bahwa sebenarnya rasa itu masih ada dalam dirimu
Hingga semalam tadi aku membiarkan bulir-bulir itu mengalir tanpa alasan aku menangisimu yang sudah terasa sangat jauh..
Jauh, tidak dalam hitungan jarak bermil-mil yang selama ini senang bermain ditengah-tengah kita.
Jauh, ketika aku menyayangimu yang sudah tidak banyak menyayangiku 
Jauh, ketika keinginan berjuang untuk memenangkan cerita ini semakin menipis
Jauh, ketika aku sudah tidak melihat lagi kupu-kupu diperutmu
Jauh, ketika pertanyaan-pertanyaanku tentang"sudah shalat" 'lagi apa?"  atau "bagaimana harimu?" hanya pertanyaan lalu yang sepertinya sudah enggan kau jawab.
Kemana kamu pergi ?
Disini hati masih ingin kamu diami
Duduklah sejenak, kita bicarakan apa yang sudah seharusnya kita bicarakan.
Selama ini kita membiarkan masalah banyak menggantung, tanpa penyelesaian hingga titik ahir dan begitu banyak jarum tanda tanya yang terlahir.

Maka, beri aku tanda. Aku butuh tau rasa itu masih ada...


"Can we go back to the days our love was strong, can you tell me how a perfect love goes wrong. Can somebody tell me how to get things back the way they use to be. Oh, God give me a reason im down on bended knee"

Komentar